Kamis, 12 April 2012

Hipertensi


Hipertensi didefinsikan sebagai kenaikan tekanan darah arterial yang bertahan. Klasifikasi menurut JNC VII adalah :
Kategori
TD sistolik
TD diastolik
Normal
< 120 mmHg
< 80 mmHg
Pre-hipertensi
120-139 mmHg
80-89 mmHg
Stadium 1
140-159 mmHg
90-99 mmHg
Stadium 2
≥ 160 mmHg
≥100 mmHg

Etiologi
HT Primer / esensial
HT Sekunder
   Tidak diketahui penyebabnya
    Faktor yg diduga berperan: umur, stres psikologis, dan hereditas (keturunan)
   Penyebabnya dapat diketahui, antara lain: kelainan pembuluh darah ginjal, ggan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme), dll.





Patofisiologi
Adapun faktor risiko mayor yang berperan pada progresifitas hipertensi yang mengarah pada penyakit kardiovaskuler adalah merokok, obesitas, inaktivitas fisik, dislipidemia, diabetes mellitus, mikroalbuminuria atau perkiraan GFR < 60 ml/menit, umur ( > 55 tahun untuk pria, 65 tahun untuk wanita), dan riwayat penyakit jantung kardiovaskuler yang prematur pada keluarga (pria pada usia < 55 tahun atau wanita < 65 tahun).

Manajemen terapi
 
Organ yang diramalkan akan mengalami kerusakan akibat hipertensi yang kurang ditangani dengan baik adalah jantung dengan hipertrofi ventrikel kiri, angina, infark miokard, dan revaskulerisasi koroner. Otak juga akan mengalami stroke atau transient iskemic attack. Serta muncul juga penyakit lain seperti penyakit ginjal kronik, arterial perifer dan retinopati.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mengsekresi epinefrin yang menyebabkan vasokontriksi. Korteks adrenal mengsekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapt memperkuat respon vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetus keadaan hipertensi.
Pada stadium awal hipertensi biasanya tidak ada gejala yang tampak. Bila tekanan darah meningkat secara akut pasien dapat mengalami :
1.         Sakit kepala, penglihatan kabur, pusing, defisit neurologis transient, atau angina.
2.         Bila perkembangan gejala lebih lambat, pasien dapat datang dengan gejala yang berhubungan dengan kerusakan organ akhir seperti gagal jantung kongestif, stroke, gagal ginjal atau retinopati.
Target Terapi Hipertensi menurut AHA (American Heart Association) 2007
Sebagian besar pasien untuk prevei
< 140/90 mmHg
Pasien dengan DM (dengan resiko setara dengan coronary artery disease); CKD; CAD (mikardial infark, angina stabil dan tidak stabil); non coronary atherosclerotic vascular (ischemic stroke, transient ischemic attack, peripherial artery disease).



< 130/80 mmHg
Pasien dengan disfungsi ventrikel kiri (heart failure)
< 120/80 mmHg



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar